681 KM

             Selasa tepatnya Juni 2015, segala sesuatu telah dipersiapkan dengan matang. Aku bersama sembilang orang teman memulai perjalanan menuju Garut. Kota yang terletak di provinsi Jawa Barat ini menjadi tempat tujuan kami untuk berlibur. Tepatnya di Pantai Santolo.
Waktu menunjukan pukul 05.00 WIB kami bersiap untuk berangkat sebelum memulai perjalanan tak lupa kami berdoa demi keselamatan bagi diri kami. Semua berdoa dengan khidmat yang dipimpin oleh saudara Abdurahman.
Satu per satu kami menghidupkan motor masing-masing. Dengan hati yang mengebu-gebu perjalanan yang sudah lama direncanakan, akhirnya terlaksana. Pada saat ini kami siap menempuh dengan segala persiapan yang matang. Perjalanan diawali dari Depok-Jonggol-Cianjur-Bandung hingga ke Garut.
Tak terasa adzan maghribh berkumandang, lampu-lampu jalan mulai menyala, langit mulai menggelap. Kami mulai mencari masjid yang berada di daerah Jonggol untuk menunaikan ibadah shalat. Sesudah shalat kami bergegas kembali untuk melanjutkan perjalanan. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya kupacu motor tuaku dengan kecepatan 60-70Km/jam.
Tiga jam lamanya kupacu kuda besi tuaku dengan hawa dingin yang mulai merasuk kedalam tulang-tulang. Kami menghentikan perjalanan di pom bensin daerah Bandung. Usai sholat isya, ngopi, kami bercengkrama untuk menghilangkan rasa kantuk dan lelah yang mulai melanda.
Satu jam berlalu perjalanan masih amat panjang, kami nyalahkan kembali motor kami.  Lampu-lampu jalan dari gedung-gedung pencakar langit menyambut kami, mempertandakan kami mulai memasuki kawasan Bandung kota, suasana malam itu hanya beberapa motor dan mobil yang berlalu lalang.
Hawa dingin kembali mulai kembali dirasakan, gedung-gedung pencakar langit sudah tidak terlihat di pelupuk mata, hanya ada beberapa lampu jalan, gerimis membuat suasana di perbatasan Bandung dan Garut menjadi amat sepi.
 Kami menemukan kendala untuk menentukan arah ke kiri atau ke kanan, kami mencari warga setempat menanyakan perihal arah menuju garut. Saat itu kami tidak menemukan warga sekitar, akhirnya kami menggunakan Global Positioning System (GPS). Terus menerus kami mengikuti arah yang ditunjukan GPS.
Penerangan yang minim dan jalanan yang berliku membuat kami lebih waspada dan hati-hati. Jalan berlubang, turunan dan tanjakan curam, serta belokan yang tajam kerap ditemui di beberapa titik jalan. Rasanya ingin cepat sampai karena hari sudah malam dan tubuh yang sudah lelah karena sudah beberapa jam mengemudi sepeda motor.
Kami memutuskan untuk beristirahat di warung warga, langsung kami memesan mie instant untuk mengganjal perut kami yang lapar. Usai memakan mie kami bencengkrama dan ada juga yang tidur. Waktu menunjukan pukul dua dini hari. Sudah lima jam lamanya kami mengendarai motor dari terakhir kami beristirahat.
Dua jam beristirahat, kami panaskan kuda besi untuk memacunya kembali dalam jalur Pengalengan. Hawa dingin sangat menusuk sekujur tubuh, sekuat tenanga melawan itu dengan melakukan pemanasan atau stretching.
Desiran ombak dan padang safana mulai nampak di pelupuk mata, dibandingkan dengan spot track Sawarna, spot track Santolo lebih memanjakan mata. Kali ini kami lebih santai mengendarai motor karena memang sudah lumayan dekat dengan pantai Santolo.
Ternyata untuk sampai ke pantai Santolo kami harus menyebrang menggunakan perahu,  kekecewaan mulai melanda didiri kami karena tidak sesuai ekspetasi. Kami lanjutkan ke tempat penginapan yang sudah kami pesan dua hari sebelumnya, ternyata homestay yang kami pesan tidak terletak di pantai Santolo ia terletak di pantai Sayang Heulang. Bergegas kami menuju homestay kami.
Saya bertanya dengan salah satu warga sekitar nama homestay yang sudah kami pesan, setelah sampai di depan homestay, kami membayar sisa penginapan. Banyak yang mengeluh dengan keadaan homestay dan pantainya.. Homestay yang bertuliskan berfasilitaskan tv dll membukat kami meresa tertipu. “Mendingan di Sawarna dah gua mah” tutur salah satu teman
Memang benar dengan keadaan pantai yang sudah banyak sampah dan terumbu karang,  membuat kami harus keluar mencari tempat pantai yang lain untuk berenang. Jika dibandingkan dengan pantai Sawarna, masih lebih bagus Pantai Sawarna, karena jarang sekali ada sampah yang berserakan. Namun,  jika dibandingkan kembali mengenai track perjalanan menuju pantainya, Pantai Sayang Heulang sangat indah pemandangan dari padang safana dan pantainya.

681 km kami menempuh perjalan dari Depok hingga Garut kami habiskan tiga hari di sana menikmati keindahan alam Garut dengan segala kelebihannya.  Selamat tinggal Pantai Sayang Heulang. Gemuruh ombak hamparan padang safana tak akan kami lupakan, keindahan alammu tak akan kami abaikan, dan hamparan lautmu akan kami jadikan pelajaran akan kebesaran Tuhan.
681 KM 681 KM Reviewed by Trisna Nugraha on Oktober 01, 2017 Rating: 5

22 komentar:

  1. Lebih mantep lagi kalo template dirapihin tris

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. apaansih sih ini tai tulisan gak jelas banget. eh mas, lain kali belajar nulis dulu lah masih banyak yang typo tuh ...

    BalasHapus
  4. tulisannya jelek banyak typo, terus juga alur ceritanya gak jelas. gak recommend bangetlah pokoknya ...

    BalasHapus
  5. TERIMAKASIH GAN , JADI ADA REFERENSI BUAT PERGI TOURING KE SENTOLO.
    :D

    BalasHapus
  6. Mantap, kalau bisa dikoreksi lagi eyd nya tris. Lanjutkan!

    BalasHapus
  7. Terima kasih Mas Trisna saya atas ceritanya saya jadi pengin ke pantai santolo. Btw, ini saya naufal pake akun wildan

    BalasHapus
  8. keren kok tris. Kuwrennnnnnnnn....

    BalasHapus
  9. Asli nih yak kisahnya bagus mas. Cuman typonya dikondisikan napa..

    BalasHapus
  10. Perjalanannya sangat mengasyikkan.

    BalasHapus

Stay Connected

Diberdayakan oleh Blogger.