Selasa tepatnya Juni 2015, segala sesuatu telah
dipersiapkan dengan matang. Aku bersama sembilang orang teman memulai perjalanan menuju Garut. Kota yang terletak di provinsi
Jawa Barat ini menjadi tempat tujuan kami untuk berlibur. Tepatnya di Pantai
Santolo.
Waktu menunjukan pukul 05.00 WIB kami bersiap
untuk berangkat sebelum memulai perjalanan tak lupa kami berdoa demi
keselamatan bagi diri kami. Semua berdoa dengan khidmat yang dipimpin oleh
saudara Abdurahman.
Satu per satu kami menghidupkan motor masing-masing. Dengan hati yang mengebu-gebu perjalanan yang sudah lama direncanakan, akhirnya terlaksana. Pada saat ini kami siap menempuh dengan
segala persiapan yang
matang. Perjalanan diawali
dari Depok-Jonggol-Cianjur-Bandung hingga ke Garut.
Tak terasa adzan maghribh berkumandang, lampu-lampu jalan mulai menyala, langit mulai
menggelap. Kami mulai mencari masjid yang berada di daerah Jonggol untuk menunaikan ibadah
shalat. Sesudah
shalat kami bergegas kembali untuk melanjutkan perjalanan. Dengan segala kekurangan dan
kelebihannya kupacu motor tuaku dengan kecepatan 60-70Km/jam.
Tiga jam lamanya
kupacu kuda besi tuaku dengan hawa dingin yang mulai merasuk kedalam tulang-tulang.
Kami menghentikan perjalanan di pom bensin daerah Bandung. Usai sholat isya, ngopi, kami bercengkrama untuk
menghilangkan rasa kantuk dan lelah yang mulai melanda.
Satu jam berlalu
perjalanan masih amat panjang, kami nyalahkan kembali motor kami. Lampu-lampu jalan dari gedung-gedung pencakar
langit menyambut kami, mempertandakan kami mulai memasuki kawasan Bandung kota,
suasana malam itu hanya beberapa motor dan mobil yang berlalu lalang.
Hawa dingin kembali
mulai kembali dirasakan, gedung-gedung pencakar langit sudah tidak terlihat
di pelupuk mata, hanya ada beberapa lampu jalan, gerimis membuat suasana di
perbatasan Bandung dan Garut menjadi amat sepi.
Kami menemukan kendala untuk menentukan arah
ke kiri atau ke kanan, kami mencari warga setempat menanyakan perihal arah
menuju garut. Saat itu kami tidak menemukan warga sekitar, akhirnya kami
menggunakan Global Positioning System (GPS). Terus menerus kami
mengikuti arah yang ditunjukan GPS.
Penerangan yang minim dan jalanan yang berliku membuat
kami lebih waspada dan hati-hati. Jalan berlubang, turunan dan tanjakan curam,
serta belokan yang tajam kerap ditemui di beberapa titik jalan. Rasanya ingin
cepat sampai karena hari sudah malam dan tubuh yang sudah lelah karena sudah
beberapa jam mengemudi sepeda motor.
Kami memutuskan untuk
beristirahat di warung warga, langsung kami memesan mie instant untuk mengganjal perut kami yang lapar. Usai memakan
mie kami bencengkrama dan ada juga yang tidur. Waktu menunjukan pukul dua dini hari.
Sudah lima jam lamanya kami mengendarai motor dari terakhir kami beristirahat.
Dua jam beristirahat,
kami panaskan kuda besi untuk memacunya kembali dalam jalur Pengalengan. Hawa
dingin sangat menusuk sekujur tubuh, sekuat tenanga melawan itu dengan
melakukan pemanasan atau stretching.
Desiran ombak dan padang
safana mulai nampak di pelupuk mata, dibandingkan dengan spot track Sawarna, spot
track Santolo lebih memanjakan mata. Kali ini kami lebih santai mengendarai
motor karena memang sudah lumayan dekat dengan pantai Santolo.
Ternyata untuk sampai
ke pantai Santolo kami harus menyebrang menggunakan perahu, kekecewaan mulai melanda didiri kami karena
tidak sesuai ekspetasi. Kami lanjutkan ke tempat penginapan yang sudah kami pesan
dua hari sebelumnya, ternyata homestay yang
kami pesan tidak terletak di pantai Santolo ia terletak di pantai Sayang Heulang.
Bergegas kami menuju homestay kami.
Saya bertanya dengan
salah satu warga sekitar nama homestay yang
sudah kami pesan, setelah sampai di depan homestay,
kami membayar sisa penginapan. Banyak yang mengeluh dengan keadaan homestay dan pantainya.. Homestay yang bertuliskan
berfasilitaskan tv dll membukat kami meresa tertipu. “Mendingan di Sawarna dah gua
mah” tutur salah satu teman
Memang benar dengan
keadaan pantai yang sudah banyak sampah dan terumbu karang, membuat kami harus keluar mencari tempat pantai
yang lain untuk berenang. Jika dibandingkan dengan pantai Sawarna, masih lebih
bagus Pantai Sawarna, karena jarang sekali ada sampah yang berserakan. Namun, jika dibandingkan kembali mengenai track perjalanan menuju pantainya, Pantai Sayang Heulang sangat indah pemandangan
dari padang safana dan pantainya.
681 km kami menempuh
perjalan dari Depok hingga Garut kami habiskan tiga hari di sana menikmati
keindahan alam Garut dengan segala kelebihannya.
Selamat
tinggal Pantai Sayang Heulang. Gemuruh ombak hamparan padang safana tak akan
kami lupakan, keindahan alammu tak akan kami abaikan, dan hamparan lautmu akan
kami jadikan pelajaran akan kebesaran Tuhan.
681 KM
Reviewed by Trisna Nugraha
on
Oktober 01, 2017
Rating:
Reviewed by Trisna Nugraha
on
Oktober 01, 2017
Rating:


kampungku. mantap ni tulisan
BalasHapusWkwkwk mantap kebetuluan banget dong
HapusLebih mantep lagi kalo template dirapihin tris
BalasHapusIya fik terima kasih atas sarannya
HapusPerjalanan sebuah anak bangsa :D
BalasHapusWkwkwkwk yoiii om
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus saya suka
BalasHapusMakasih lih mas sudah suka sama tulisan saya
HapusSaya suka
BalasHapusTerima kasih mba meyukai tulisan saya
Hapusapaansih sih ini tai tulisan gak jelas banget. eh mas, lain kali belajar nulis dulu lah masih banyak yang typo tuh ...
BalasHapustulisannya jelek banyak typo, terus juga alur ceritanya gak jelas. gak recommend bangetlah pokoknya ...
BalasHapusTERIMAKASIH GAN , JADI ADA REFERENSI BUAT PERGI TOURING KE SENTOLO.
BalasHapus:D
Wkwkwkwk mantap gan, kalo kesana hati2 dijalan
HapusMantap, kalau bisa dikoreksi lagi eyd nya tris. Lanjutkan!
BalasHapusSipp mba makasih loh masukannya
HapusTerima kasih Mas Trisna saya atas ceritanya saya jadi pengin ke pantai santolo. Btw, ini saya naufal pake akun wildan
BalasHapuskeren kok tris. Kuwrennnnnnnnn....
BalasHapusAlay.....banyak typo
BalasHapusAsli nih yak kisahnya bagus mas. Cuman typonya dikondisikan napa..
BalasHapusPerjalanannya sangat mengasyikkan.
BalasHapus